Pelito, Sebutan Khas Ayah untuk Lampu ini


Pelito penerang kegelapan

Malam itu, lupa tepatnya ditanggal berapa, yang jelas masih di bulan Juli 2018.

Berdua Ayah menikmati suasana Alam, jelang pergi, Ayah sempat menanyakan sesuatu kepada sang kekasih belahan jiwanya, yess, itu Mak Saya. Lebih kurang pertanyaan nya "Dimano Pelito yang biaso tu?"

Sebuah kata yang telah lama tak saya dengar, Pelito. Kalian tau itu apa kawan?

Itulah dia sebuah lampu penerangan dengan bantuan bahan bakar minyak tanah dan api marak pada sumbunya, sebagai penutup agar tak gampang padam oleh angin, adalah terbuat dari bahan kaca, begitu pula tempat bahan bakarnya.

Uniknya lagi ini lampu bisa kita gantung, ada bahan kaleng yang dari dulu suka ada gambar seorang model atau artis gitu deh. Lagi-lagi mungkin ini sebagai bahan penariknya. Hehehe

Kalian yang hidup di perdesaan saya kira sama-sama pernah menikmati suasana ini, bahkan mungkin lebih dari pengalaman Saya.

Bagi kalian hidup di kota, lahir di jaman aliran listrik sudah begitu dahsyat, sampai-sampai tarif listrik juga ikut naik sehingga lumayan banyak rakyat kecekik. Bisa jadi sekali-kali perlu turun deh ke Desa buat menikmati suasana alam gini. Hehe

Oya tujuan kita dikebun adalah "Ngadang Duren" ini sebutan di Desa saya untuk sebuah pekerjaan menunggu buah Durian jatuh dari pohon nya. Bosan dong ya menunggu, apa lg jika menunggu malah buah duriannya gak jatuh-jatuh, mana dingin, nyamuk siap mengisap darah, suara-suara aneh lengkap berbunyi.
Keep Calm, ini suasana asyiik kok, gak setiap hari juga kan. Malam itu Ayah tidur lebih dulu, berlantaikan papan, diatas tikar tanpa kasur beliau Istirahat. Dimasa tua nya masih begitu bersemangat, tenaga masih kuat. Saya malah belum mau tidur, ingin menikmati suasana ini penuh penghayatan.

Ayah, terima kasih atas segala perjuangan mu, salah satunya menanam durian ini. banyak di antara teman-teman saya ingin makan durian, harus beli, bahkan disaat buah durian di patok harga lumayan mahal.

Tapi dengan suasana malam ini, suatu hal wajar jika buah durian itu mahal, mana waktu tunggu dari nanam sampai berbuah bukan lah waktu singkat.

Menunggu ini saja saya masih gak punya waktu, lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas lainnya. Sedangkan engkau bermalam dipondok kecil ini melawan rasa dinginnya angin malam Ayah.

Tepat pukul 01.00 WIB dini hari, Ayah sedikit meraung kesakitan. Saya coba segera memijit Ayah, tidaklah begitu lama, dengan suara pelan Ayah berkata "sudahlah kalo kan litak" alias "sudahlah kalau kamu lelah" beliau selalu duluan menyuruh berhenti disaat waktu saya memijit beliau. Mau nangis sih rasanya.

Tak banyak waktu bersama Ayah disaat masa tuanya ini. Setidaknya malam itu berasa banyak pelajaran berharga.

Ayah bukan orang berpangkat, berbaju dinas lengkap, apalagi punya relasi tingkat tinggi dan bisa lobi sana sini, hanya orang kampung yang penuh perjuangan. Tanpa mu kami bukan Apa-apa Ayah.


Jadilah Pelito yang selalu menarangi Kami.

I luv u full

Post a comment

0 Comments