Sebatang Rokok sudah gak Asik Lagi


Sumber foto : internet

Sekian lama sudah tidak menghisap rokok, beberapa malam lalu mencoba menghabiskan sebatang rokok teman berinisial P. 

Ingin mengalihkan rasa ngantuk yang mulai melanda saat mengendarai mobil dengan jarak tempuh lebih kurang 180 KM.

Mencoba menikmati sisi kenikmatan dari rokok itu sendiri, namun semakin dihisap gak berasa ada nikmatnya, beda banget kali nih sama mereka yang perokok aktif, apalagi sebagai perokok pasif, keganggu malah yang ada dengan timbulnya asap rokok.

Sampai di tujuan lebih kurang jam 2 dini hari, istirahat tidur deh. Bangun pagi nya benar2 beda, ditenggorokan, hidung plus dimulut gak asik banget. Semacam ada satu kenyamanan hilang. Kadang mikir gitu, apakah mereka gak mengalami hal serupa saya disaat bangun ya. Entah la. Dibawa asik aja.

Konon harga rokok juga bukan harga yang murah, bagi petani sawit dan karet, saat ini 1 Kg harga jual sawit dan karet tidak mencukupi untuk membeli sebungkus rokok, 1 Kg beras pun tidak cukup untuk membeli rokok. Namun masih banyak para penikmatnya dengan santai menghisap sembari mengeluhkan rendahnya harga jual dan meroketnya harga kebutuhan pokok.

Bulan lalu Jumat 20 Juli 2018, harian pagi Jambi Ekspres di halaman satu memuat sebuah judul "Rokok Dominan Sumbang Kemiskinan" kok bisa ya? Bukankah bisa kita lihat disana sini produk rokok banyak berkontribusi menjadi sponsor.

Koran JE
Masih dikutip dari Jambi Ekspress "Bappenas menyebutkan, Perokok daei golongan kesejahteraan rendah di dominasi oleh pria berusia 35-39 tahun. Jumlahnya mencapai 64,7 persen dari orang berkesejahteraan rendah"

Yaa dinikmati saja.





Post a comment

0 Comments