Allah Sayang Aku : Kisah Nyata Belajar Sabar dan Ikhlas Lewat Ujian Sakit

Editing Foto AI : Adhi Sawank

Sakit mengajarkanku tentang dua hal yang paling berat dilatih dalam hidup : ๐˜€๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ธ๐—ต๐—น๐—ฎ๐˜€

Di saat tubuh tak lagi sekuat biasanya, di saat nyeri datang tanpa permisi, aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap bertahan meski rasa sakit itu hampir melewati batas kemampuanku.

Perjalanan sakit dalam hidupku bukanlah cerita yang singkat. Aku pernah merasakan demam biasa yang membuat badan menggigil berhari-hari. Pernah terkulai lemas karena tifus. Pernah melalui perjuangan panjang melawan TBC. 

Pernah pula merasakan perih berkepanjangan karena maag yang kemudian didiagnosa dokter sebagai GERD. Satu per satu penyakit itu datang silih berganti, seolah menguji seberapa kuat aku menggenggam harapan.

Namun yang paling membekas adalah ketika aku masih duduk di kelas 4 SD.

Hari itu tubuhku panas tinggi, lemas, dan akhirnya dokter memvonis aku terkena DBD. 

Aku harus dirawat inap, dan kondisiku semakin mengkhawatirkan karena kekurangan darah. Saat itu aku benar-benar harus menjalani donor darah demi menyelamatkan hidupku.

Sebagai anak kecil, aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. Yang kurasakan hanya takut, perih, dan rindu pulang. Di balik selang infus dan bau obat di ruang rawat, aku melihat wajah cemas orang tuaku. 

Saat itulah, tanpa kusadari, Allah sedang menuliskan satu pelajaran besar dalam hidupku tentang rapuhnya manusia dan besarnya kasih sayang-Nya.

Kini, setelah semua itu terlewati, aku hanya bisa berkata : Alhamdulillah, aku masih diberi umur.

Aku masih bisa menghirup napas. Masih bisa melihat dunia. Masih dikelilingi keluarga yang selalu mendukung dan menguatkan di setiap kondisi.

Ada satu hal yang selalu terasa ketika sakit datang : kematian seakan berada sangat dekat. 

Rasa lemah yang tak tertahankan, tubuh yang tak bisa diajak berkompromi, membuatku sadar bahwa hidup ini benar-benar rapuh. Dan justru di situlah aku memahami salah satu hikmah terbesar dari sakit adalah alarm dari Allah.

Pengingat yang paling jujur bahwa hidup ini sementara, bahwa kita harus segera kembali kepada-Nya dengan takwa dan tunduk.

Untuk belajar sabar dan ikhlas, hatiku selalu teringat pada satu sosok yang luar biasa : Nabi Ayub ‘alaihissalam. Betapa lamanya beliau diuji dengan sakit, kehilangan, dan penderitaan. 

Namun tak satu pun keluhan tercatat keluar dari lisannya. Bahkan beliau pernah berkata bahwa sakit yang ia alami belumlah seberapa dibandingkan nikmat sehat yang pernah ia rasakan sebelumnya. 

Kalimat itu menghunjam jauh ke dalam hatiku. Sejak saat itu, setiap kali sakit datang, aku berusaha menanamkan satu kalimat dalam diri “Ini bukan hukuman, ini tanda kasih sayang Allah".

Hari ini, jika engkau yang membaca tulisan ini sedang berada di atas ranjang sakit, sedang berjuang menahan rasa nyeri, sedang menunggu kesembuhan yang terasa begitu lama datangnya, tetaplah semangat. 

Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti berharap.

Jadikan sakit sebagai alarm bagi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.

Karena sesungguhnya, di balik setiap rasa sakit, selalu ada cinta-Nya yang sedang bekerja dengan cara yang mungkin belum kita pahami sepenuhnya.

Dan aku percaya satu hal : Selama kita masih diberi napas, itu berarti Allah masih sayang kepada kita.

Allah Sayang Aku.

Kamis , 4 Desember 2025

Adhi Sawank From Muara Tebo With Peace


Post a Comment

0 Comments