Benarkah Jengkol jadi Trending Topik??



doc. pribadi
www.adhisawank.com


Beberapa hari ini Jengkol telah menjadi topic perbincangan di media sosial bahkan sampai di warung kopi. Semacam ada pro dan kontra tentang Jengkol mengalahkan topic lain yang sebenarnya jauh lebih penting untuk dibahas. 

Dilihat dari munculnya pro kontra ini, ternyata berawal dari statemen Presiden Jokowi waktu beliau sedang di Jambi. Sebelum usai menuliskan ini, saya browsing kembali mencari berbagai sumber terkait pernyataan tersebut. Dengan mengetikkan "jengkol kata jokowi" di mesin pencarian Google langsung muncul situs rujukan. Beberapa diantara nya seperti gambar  dibawah ini :



Berbekal informasi dari sana tidak banyak pula menjadi pertengkaran antar dua kubu menjelang Pilpres di Tahun 2019 mendatang. Opini antar kedua kubu terkait Jengkol, asumsi gila sampai-sampai ingin mengutamakan pendapatnya sendiri dengan mengemukakan realistis versinya masing-masing. 

Herannya berdebat panjang diwarung kopi, tidak punya sawit, tidak punya karet, tidak punya jengkol, dan kebun komoditas lainnya, jangan nanam sendiri, kebun saja tidak punya. Miris dan sebenarnya tidak heran lagi, kedua kubu ini perang sejak tahun 2014 silam.  Padahal tidak sama sekali sedang berada di lokasi mendengar langsung apa yang disampai Presiden Jokowi. Namun debatnya melebihi orang-orang yang berada dilokasi. 

Sampai diparagraf di atas, bisa jadi ada yang beropini bahwa tulisan ini menggiring ke salah satu calon. Haha sebaiknya kita ngopi dan menikmati keripik jengkol dulu deh. Aduh jadi ingat kemarin, sedang ngumpul bersama teman-teman di Sekretariat Tebo Top. Kita berbincang tentang ide-ide liar dengan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan, sembari beberapa teman asik mengerjakan papan bunga ucapan merupakan orderan dari konsumen Tebo Top Florist. Ini salah satu bagian Divisi Tebo Top bergerak dibidang ekonomi kreatif. Semoga lebih maju dalam kualitas pelayanan, inovasi dan bla bla sehingga mengalahkan trendingnya jengkol. Hehe 

Yang bikin keripik jengkol ini tambah nikmat, karena kita menikmati bersama-sama tanpa memandang unsur pilihan masing-masing, meski dalam usia kita berbeda, dalam pekerjaan kita juga beda. Dari yang jaman old sampai ke jaman now, masih asik hidup ala sersan (serius namun santai). Dari berkumpulnya forum kecil ini berasa bahwa demokrasi itu sebenarnya asik, ada kendala dalam pelaksanaan merupakan bumbu-bumbu yang perlu diracik menjadi sesuatu sehingga dapat dikonsumsi menjadi nikmat. Layaknya komoditas Jengkol yang di olah dengan bumbu-bumbu menjadi santapan nikmat bagi para penikmatnya. Aroma khas dengan standart bau kelas Nasional tersebut telah menjadi Pusat Perhatian. Sampai lupa bahwa harga Jengkol terkadang naik, sampai ada Istilah Juragan Jengkol.

Untuk Jengkol ini sendiri, saya termasuk Orang yang tidak terlalu fanatik bahkan jika ada di depan mata tidak terlalu mau makannya, berbeda dengan kripiknya, lebih mau dari sekedar olahan Jengkol versi lainnya. Ada gitu ya makanan mengeluarkan aroma tak sedap namun bisa membuat orang lahap. Patut bersyukur kita akan Maha Besar Allah SWT.

Jadi ingat beberapa batang jengkol di halaman belakang Rumah, udh 2 karung kresek muatan 20 kg dikalikan 80 ribu /karung, uang masuk 160 ribu, lumayan tanpa majat batang jengkol, ada loh yang mau beli dan manen sendiri, bisa dikatakan dengan Istilah Jemput bola. 

Menanam Jengkol ini apakah suatu kebijakan dalam bentuk keharusan? Atau dalam bentuk saran?

Jika keharusan artinya itu bagaikan pajak kendaraan yang harus kita tunaikan. Jika dalam bentuk saran, boleh dong kita abaikan? Tanah yang punya kita, kerja kita, terserah mau nanam apa. 

Sekian dan terima jengkol, hehe.

Artinya memang Jengkol sedang trending topik. Selamat makan siang, terkhusus bagi yang konsusmi jengkol.

Piss

Post a comment

0 Comments