Pola Asuh Zaman Dulu dan Sekarang, Tantangan Orang Tua di Era Digital

Zaman Dulu VS Era Digital, Editing AI : Adhi Sawank

Dulu, waktu kita kecil, dunia terasa sederhana. Pulang sekolah bukan duduk di depan layar, tapi keluar rumah untuk bermain bersama teman, mulai dari main layangan, main bola, main karet, ladang, hingga memanjat pohon jambu, dan lain sebagainya.

Tak ada google maps, tapi selalu hafal setiap sudut kampung dengan kaki bersendal jepit bahkan kadang kaki telanjang. Orang tua cukup bilang 'Magrib Pulang!', dan kita paham.

Komunikasi pun searah. Ayah bicara kita mendengar. Ibu memberi nasihat kita menurut. Mungkin tidak banyak pilihan untuk bertanya, tapi ada kehangatan yang terasa dari tatapan dan genggaman tangan mereka. Ilmu datang dari cerita, dari petuah sebelum tidur, dari contoh yang diam-diam kita tiru.

Sekarang, dunia berubah cepat. Anak-anak tumbuh dengan gadget di tangan, belajar membaca lewat layar, dan mengenal dunia lewat video-video singkat.

Komunikasi bukan lagi satu arah. Mereka bertanya banyak hal, bahkan kadang lebih cepat tahu berita daripada orang tuanya. Jika dulu orang tua adalah sumber utama jawaban, kini peran itu berubah menjadi pendamping sekaligus filter informasi.

Disiplin pun bergeser. Zaman dulu, ketegasan adalah bentuk cinta yang tidak perlu banyak dijelaskan. Sekarang, kita belajar bahwa memahami perasaan anak juga bagian dari mendidik. Bukannya tidak tegas, tapi kita ingin mereka tumbuh mengerti bukan karena takut, melainkan karena sadar.

Dan soal bermain, dunia anak kini lebih banyak berada di dalam genggaman, layar kecil yang menyala. Kita perlu mengingatkan mereka bahwa tanah masih wangi saat hujan, rumput tetap terasa dingin di kaki, dan bahagia tidak hanya datang dari notifikasi yang berbunyi.

Pada akhirnya, tidak ada yang harus dipertentangkan. Masa lalu memberi kita akar kebijaksanaan, kedisiplinan, keteguhan. Sementara era digital membuka sayap kreativitas, akses ilmu, peluang tanpa batas.

Tugas kita sebagai orang tua hari ini adalah menuntun anak berdiri di tengah dua dunia itu. Tetap membumi seperti kita dulu, namun mampu terbang menghadapi masa depan.

Semangaaat beradaptasi

Panjang Umur Kebahagian

Peace 

Post a Comment

0 Comments